Kecanduan Makanan Manis? Ini Cara Mengontrolnya!

Nutrition / February 16, 2019 / Panduan Diet

Berapa banyak di antara kamu yang mungkin tanpa kamu sadari selalu membutuhkan makanan manis.  Bagaimana cara mengontrolnya agar tidak berdampak buruk pada diet kamu?

Bukan sekadar karbohidrat seperti nasi atau kentang tetapi kamu benar-benar mencari makanan manis yang ringan seperti permen, cookies, snack seperti potato chips kemudian cokelat, ice cream, susu coklat, dan lain sebagainya.

Beranikah kamu mengatakan ‘suka’ terhadap jenis makanan tersebut dan tidak mengatakan ‘butuh’ ?

Kalau kamu suka tetapi tidak butuh, berarti tentunya kamu mampu untuk tidak memakannya.

Tetapi kalau kamu ‘butuh’, berarti kamu tidak bisa hidup tanpa makanan tersebut. Kamu termasuk yang manakah dalam menghadapi jenis makanan tersebut?

Suka atau Butuh Makanan Manis?

Sadar tidak sadar, banyak dari kamu mungkin ternyata ‘butuh’ yang namanya makanan manis, hal ini biasa disebut sebagai sugar craving.

Rasanya seperti tidak bisa kalau tidak memakan sesuatu yang manis. Sugar craving ini bisa menjadi penghambat utama dalam proses diet dan menjadi sumber utama dari obesitas yang mengacu ke arah diabetes.

Penyebab utama dari sugar craving ini adalah terlalu sering mengonsumsi sugar secara berlebihan.

Dan hal ini akan menyebabkan hormon tidak seimbang.

Urut-urutan dari kejadian ini adalah ketika kamu mengonsumsi makanan manis seperti yang sudah saya sebutkan tadi yang termasuk juga makanan berglikemik index (GI) tinggi.

Ketika kamu makan makanan GI tinggi, karbohidrat akan dengan cepat diserap ke dalam darah dalam bentuk glucose dan kemudian pankreas yang melihat gula dalam darah meningkat secara cepat, akan mengeluarkan insulin cukup banyak, untuk menurunkannya.

Glucose yang berlebih akan dimasukkan ke dalam adipose tissue yang disimpan sebagai lemak. Ingatlah bahwa selama insulin tinggi, maka lemak akan terus bertambah, dan insulin juga menghambat pembakaran lemak tubuh kita.

Insulin yang cukup banyak ini akan menurunan glucose dalam gula darah ini dengan cepat pula sehingga kadar dalam darah mendadak rendah sekali.

Ketika glucose dalam darah rendah, kamu akan merasa lapar, bahkan lemas dan mengantuk, kemudian jadi ingin makan, termasuk makanan manis yang paling menggoda.

Akhirnya kita akan mencari coklat atau permen lagi. Makanan ini akan mengembalikan gula darah secara cepat dan tinggi lagi, sehingga pankreas akan sekali lagi mengeluarkan insulin dalam jumlah yang banyak sekali lagi.

Siklus ini akan terus terulang dan berantai membuat keseimbangan hormon kamu kacau balau karena sebentar naik tinggi kemudian sebentar lagi terjun bebas.

Sistem hormonal yang tidak seimbang ini-lah yang menyebabkan kamu merasa gampang letih, tidak bertenaga dan lesu.

Banyaknya insulin juga menyebabkan tubuh menyimpan lemak daripada membakarnya. Dan semakin sering siklus ini terulang, akan menyebabkan kekebalan insulin meningkat yang artinya dibutuhkan lebih banyak insulin untuk menurunkan gula darah dengan jumlah yang sama.

Hal inilah yang menyebabkan penyakit diabetes type 2. Contoh sederhana akan siklus ini bisa kamu amati pada kejadian setiap hari. Yaitu ketika kamu selesai makan siang di kantor, sekitar jam 1 dengan nasi yang banyak, dalam 2 jam gula darah akan meningkat tajam, dan insulin akan menurunkannya secara tajam pula sehingga sekitar pukul 3 biasanya akan merasa sangat mengantuk.

Dan sebentar lagi kamu hampir pasti akan mencari camilan yang manis-manis untuk mengembalikan tenaga.

Kejadian sepele seperti itu ternyata mengakibatkan ketidakseimbangan hormon dan menyebabkan penimbunan lemak serta meningkatkan resiko terkena diabetes type 2.

Selain itu, memakan sesuatu yang manis akan merangsang hormon serotonin di otak.

Serotonin adalah hormon yang bisa menyebabkan kita berasa enak dan senang.

Karena itu, kalau kamu minum susu coklat, kita bisa sedikit meredakan stress.

Dan itu juga yang menjelaskan kenapa orang stress selalu mencari makanan yang manis-manis.

Makanan manis meningkatkan serotonin secara drastis tetapi tidak lama kemudian, seperti halnya juga gula darah, akan secara drastis juga turun.

Sehingga kita akan merasa butuh secara terus menerus untuk makanan manis ini dan menjadi ‘kecanduan’ makanan yang manis.

Solusi dari permasalahan ini adalah dengan cara mengenali dan mengubah apa yang masuk ke mulut.

Dalam hal ini karbohidrat.

Untuk membuat hormon kita menjadi stabil kembali dan menghilangkan ‘kecanduan’ akan makanan manis ini membutuhkan waktu.

Butuh motivasi dan disiplin untuk membuang kebiasaan yang lama dan mengikuti pola makan yang baru.

Langkah awal yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengubah makanan-makanan yang berglikemik index tinggi dengan yang lebih rendah.

Sebagai contoh, kamu bisa mengubah nasi putih dengan beras merah, mengganti snack kripik kentang dengan buah apel segar.

Kamu bisa saja mengubah total kebiasaan kamu dengan mengikuti berbagai macam diet rendah karbohidrat, tetapi disarankan untuk melakukan perubahan ini secara bertahap supaya hasilnya bisa lebih lama dan tidak ada keinginan untuk ‘balas dendam’.

Langkah berikutnya adalah usahakan kamu makan dengan cukup nutrisi seimbang sebanyak 5-6x sehari sehingga tidak selalu kelaparan dan mencari camilan-camilan tinggi karbohidrat yang tidak sehat.

Juga hindari timbunan snack-snack tersebut di lemari-lemari rumah kamu dan gantilah dengan buah-buahan yang segar.

Dan yang terakhir, tingkatkan aktivitas fisikmu sehingga kamu tidak menghabiskan waktu di depan tv, diatas sofa atau ranjang sambil makan makanan manis. Semoga bermanfaat.